Sabtu, 16 Oktober 2021

CERPEN "SEPOTONG KISAH DI PENGHUJUNG SENJA IBU KOTA"

Lelaki di penghujung senjanya, dengan helai-helai rambut yang mengelabu, duduk di belakang gerobak dorong bermuatan abu gosok, melepas mentari menuju peraduannya. Pandangannya tampak menerawang. Sementara aku berjalan melewatinya tanpa berpikir apa-apa. Melenggang begitu saja. Kemudian terbesit untukku menyapa.

Kucoba mengeluarkan kata, menembus bisingnya derum tak beraturan suara kendaraan.

“Jualan apa, Pak?” tanyaku mengawali.

“Abu gosok, Nak. Mau belikah?” Ia melontarkan tanya yang kusambut dengan anggukan meskipun aku tidak memiliki ide, untuk apa abu gosok itu nantinya.

Laki-laki tua itu dengan tangan keriputnya perlahan membungkuskan abu. Ia masukkan ke plastik dan disodorkannya padaku.

“Berapa harganya, Pak?” tanyaku 

“Tiga ribu rupiah, Nak.” Kuserahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol padanya. Kemudian ia merogoh kantong mencari kembalian untukku. Namun hasilnya nihil. Lirih ia berkata, “Maaf, Nak. Tidak ada kembalian”

“Tak apa, Pak. Buat Bapak saja kembaliannya,” kataku. Ia nampak keberatan tapi akhirnya mau menerimanya.

Aku melanjutkan bercakap dengannya hingga terpetik suara seruan untuk menegakkan sholat magrib. Wajah rentanya menunduk. Ia tampak menelan ludah. Jakun tuanya naik turun. Tampak rindu siraman air pelepas dahaga.

“Bapak puasa?” tanyaku. Ia mengangguk. Kemudian kuserahkan sebungkus makanan dan sebotol air minum yang tadi memang kubeli untuk berbuka puasa.

“Ini, Pak. Tadi kebetulan saya beli makanan lebih,” kataku dengan sopan. Sejenak ia ragu untuk menerimanya. Namun, aku sedikit memaksakan agar ia mau menerimanya. Ia menerimanya sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kemudian aku pamit meninggalkannya.

- - - - - - - - - - -

Senja ini, aku tengah menikmati tenggelamnya mentari dari balik jendela lantai 20 salah satu gedung di Ibu Kota dengan penuh syukur. Di tanganku tergenggam sebungkus abu gosok yang kubeli kala itu.

Sayup-sayup kembali kudengar percakapanku dengan laki-laki penjual abu gosok beberapa tahun silam. Wajah tuanya bersama gerobak abu gosok kembali membayang di depan mata.

“Laa haulla wa laa quwwata illaa billaah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, Nak,” jawab laki-laki itu ketika ku tanya apa yang menjadikannya tetap bertahan berjualan meskipun sudah berusia lanjut.

“Setiap kekuatan, setiap harta, setiap prestasi yang kita miliki itu atas campur tangan Allah, Nak. Dan juga rizki datang ketika kita mau berusaha, itu yang membuatku tidak mau menegadahkan tangan di jalanan. Setidaknya aku masih mampu memberikan kemanfaataan dengan abu gosok ini, Nak,” lanjutnya.

Hatiku merasa tersentil. Selama ini aku mengklaim apa yang kumiliki adalah atas usaha sendiri dan melupakan campur tangan Allah SWT. Aku malu, sungguh aku malu. Malu melihat orang yang setua itu saja masih mau berusaha sedemikian rupa untuk menggapai rizki-Nya. Sedangkan aku merengek-rengek dan bermalas-malasan tapi maunya hidup enak.

Nasihat lelaki itulah yang menjadi salah satu pengantar aku berada di sini. Di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Yang dari atasnya aku bisa memandang seluruh Ibu Kota dengan leluasa. Yang dulu hanya bisa kusaksikan dari televisi hitam putih di pos ronda. Beruntung Allah SWT mempertemukan aku dengan laki-laki itu atau barangkali Allah sengaja menegurku melalui penjual abu gosok itu.

Entahlah, yang pasti kejadian itu mampu membuatku berubah. Dan setiap mengingat hal itu aku juga tersenyum sendiri. Karena kejadian itu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena intropeksi diri tapi karena sejujurnya aku tidak membeli makanan lebih dan selembar uang lima ribu itu adalah lembar terakhir yang ada di dompetku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar