Lelaki di penghujung senjanya, dengan helai-helai rambut yang mengelabu, duduk di belakang gerobak dorong bermuatan abu gosok, melepas mentari menuju peraduannya. Pandangannya tampak menerawang. Sementara aku berjalan melewatinya tanpa berpikir apa-apa. Melenggang begitu saja. Kemudian terbesit untukku menyapa.
Kucoba
mengeluarkan kata, menembus bisingnya derum tak beraturan suara kendaraan.
“Jualan
apa, Pak?” tanyaku mengawali.
“Abu
gosok, Nak. Mau belikah?” Ia melontarkan tanya yang kusambut dengan anggukan
meskipun aku tidak memiliki ide, untuk apa abu gosok itu nantinya.
Laki-laki
tua itu dengan tangan keriputnya perlahan membungkuskan abu. Ia masukkan ke
plastik dan disodorkannya padaku.
“Berapa
harganya, Pak?” tanyaku
“Tiga
ribu rupiah, Nak.” Kuserahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol
padanya. Kemudian ia merogoh kantong mencari kembalian untukku. Namun hasilnya
nihil. Lirih ia berkata, “Maaf, Nak. Tidak ada kembalian”
“Tak
apa, Pak. Buat Bapak saja kembaliannya,” kataku. Ia nampak keberatan tapi
akhirnya mau menerimanya.
Aku
melanjutkan bercakap dengannya hingga terpetik suara seruan untuk menegakkan
sholat magrib. Wajah rentanya menunduk. Ia tampak menelan ludah. Jakun tuanya
naik turun. Tampak rindu siraman air pelepas dahaga.
“Bapak
puasa?” tanyaku. Ia mengangguk. Kemudian kuserahkan sebungkus makanan dan
sebotol air minum yang tadi memang kubeli untuk berbuka puasa.
“Ini,
Pak. Tadi kebetulan saya beli makanan lebih,” kataku dengan sopan. Sejenak ia
ragu untuk menerimanya. Namun, aku sedikit memaksakan agar ia mau menerimanya.
Ia menerimanya sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kemudian aku pamit
meninggalkannya.
-
- - - - - - - - - -
Senja
ini, aku tengah menikmati tenggelamnya mentari dari balik jendela lantai 20
salah satu gedung di Ibu Kota dengan penuh syukur. Di tanganku tergenggam
sebungkus abu gosok yang kubeli kala itu.
Sayup-sayup
kembali kudengar percakapanku dengan laki-laki penjual abu gosok beberapa tahun
silam. Wajah tuanya bersama gerobak abu gosok kembali membayang di depan mata.
“Laa
haulla wa laa quwwata illaa billaah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah, Nak,” jawab laki-laki itu ketika ku tanya apa yang
menjadikannya tetap bertahan berjualan meskipun sudah berusia lanjut.
“Setiap
kekuatan, setiap harta, setiap prestasi yang kita miliki itu atas campur tangan
Allah, Nak. Dan juga rizki datang ketika kita mau berusaha, itu yang membuatku
tidak mau menegadahkan tangan di jalanan. Setidaknya aku masih mampu memberikan
kemanfaataan dengan abu gosok ini, Nak,” lanjutnya.
Hatiku
merasa tersentil. Selama ini aku mengklaim apa yang kumiliki adalah atas usaha
sendiri dan melupakan campur tangan Allah SWT. Aku malu, sungguh aku malu. Malu
melihat orang yang setua itu saja masih mau berusaha sedemikian rupa untuk
menggapai rizki-Nya. Sedangkan aku merengek-rengek dan bermalas-malasan tapi
maunya hidup enak.
Nasihat
lelaki itulah yang menjadi salah satu pengantar aku berada di sini. Di sebuah
gedung yang menjulang tinggi. Yang dari atasnya aku bisa memandang seluruh Ibu
Kota dengan leluasa. Yang dulu hanya bisa kusaksikan dari televisi hitam putih
di pos ronda. Beruntung Allah SWT mempertemukan aku dengan laki-laki itu atau
barangkali Allah sengaja menegurku melalui penjual abu gosok itu.
Entahlah,
yang pasti kejadian itu mampu membuatku berubah. Dan setiap mengingat hal itu
aku juga tersenyum sendiri. Karena kejadian itu membuatku tidak bisa tidur
dengan nyenyak. Bukan karena intropeksi diri tapi karena sejujurnya aku tidak
membeli makanan lebih dan selembar uang lima ribu itu adalah lembar terakhir
yang ada di dompetku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar