Kata mereka, keluarga adalah tempat terbaik untuk mencari kebahagiaan..
Kata
mereka, rumah adalah tempat ternyaman untuk beristirahat..
Ya,
itu semua kata mereka…
Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang
nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa
aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah aku mendapatkannya?
Inilah kisahku, kisah pilu yang tak seharusnya aku rasakan..
Namaku Ashlina Beatarisa Putri, biasa dipanggil Lina
atau Lin. Hari ini, usiaku genap 17 tahun. Diusiaku yang beranjak dewasa ini,
aku berharap agar diriku tetap kuat menjalani hidup.
“Selamat
ulang tahun untuk jiwa yang pantang menyerah!” ucapku kepada diri sendiri
Menjelang sore tiba, cuaca mendung menghampiri siang yang tadinya tersenyum cerah. Dari bibir pantai aku menatap ombak berkejaran, “andai saja aku adalah ombak di lautan, betapa bebasnya aku”
Ponselku tiba-tiba berdering.
“LINA PULANG!” bentak seorang wanita di seberang
telepon. “I.ii..iya Ma” jawabku gugup.
Tuttt… Tuttt… Tuttt…
Aku menggenggam ponselku dengan erat, hembusan angin
membelai rambutku seakan berkata ‘jangan menangis’ kepadaku. Tak kusadar, air
mata ini menetes dengan sendirinya.
“Aku harus pulang, mama pasti mencariku,” batinku.
Sepanjang jalan aku hanya termenung, tatapan kosong
ke depan dan perasaan was-was menyelimutiku.
“Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?
Kamu lupa peraturan rumah? KAMU LUPA SIAPA YANG BERI KAMU MAKAN HAH!” ucap
wanita paru baya dengan nada yang semakin meninggi
“CUKUP MA!” aku memejam mataku, bibirku bergetar
hebat “Lina pengen istirahat sebentar saja ya Ma” Aku tak peduli dengan ocehan
mamaku lagi dan menerobos masuk ke kamar.
“LINA! LINA!!! ANAK KURANG AJAR!” Mamaku mengumpat
di balik pintu kamarku “LINA! KALAU NILAI UJIANMU ANJLOK LAGI JANGAN HARAP BISA
TIDUR DISINI! DENGAR!!”
Aku selalu dituntut sempurna untuk apapun itu, mama
tak pernah sudi menerima kekurangan anaknya. Baginya, aku adalah satu-satunya
harapan untuk mengubah nasib keluarga ini. Ayah telah lama pergi meninggalkan
kami, meninggalkan anak dan istrinya serta kenangan di rumah ini. Kebangkrutan
perusahaan tempat ayah bekerja membuat ayah di PHK, ayah tak bisa terima dengan
keadaan itu lantas memutuskan untuk menceraikan mama dan menikahi wanita lain
yang kaya raya.
Mama meluapkan semua amarahnya kepadaku. Aku tau
mama adalah korban keegoisan ayah. Tapi mengapa harus aku? Mengapa aku yang
menanggung rasa sakit hati yang mama rasakan.
Sinar mentari menyambut pagiku yang suram. Baru saja
aku mencoba menghirup udara segar, teriakan mama langsung menyapa hariku.
“LINA BANGUN!!
CEPAT KE SEKOLAH!!”
“Iya Ma, sabar”
jawabku melas setengah sadar.
“Mandi lalu sarapan!” terasa aneh, entah kenapa
sikap mama pagi ini membuatku curiga.
Aku meneguk jus jeruk dengan terburu. Membiarkan
setangkup roti bakar berlapis keju dan segelas susu beraroma vanilla, diam di
tempatnya.
“Kenapa tidak sarapan, hanya minum? Mama menatapku
heran. Aku pun menatap balik dengan heran.
Tak biasanya mama menyiapkanku sarapan, “maaf Ma,
aku sudah telat”
“Kalau begitu dibungkus saja. Nanti jam istirahat
jangan lupa dimakan” dan tanpa menunggu persetujuanku, mama telah memasukkan
roti bakar ke dalam kotak bekalku.
“Hmm, terima kasih Ma” aku menatap wajah mamaku
sebentar lalu berjalan ke luar.
Apakah mama
telah sadar?
Tanpa sadar aku tersenyum tipis, berharap
penderitaan ini segera berakhir.~
“Lin? Kamu
dipanggil Ibu Sri di ruang guru” tukas Wildan, ketua kelasku.
“Ibu Sri?”
tanyaku heran
“Ia, Ibu Sri
wali kelas kita, masa kamu lupa?
“Aku tau,
maksudku.. kenapa Ibu memanggilku?”
“Entahlah, ikut
saja” jawabnya seraya menuntunku menuju ruang guru.
*TOK TOK*
Wildan membuka
pintu dan memberi salam “permisi Bu/Pak” kami melangkah kecil menuju meja bu
Sri
“Ini Bu, si
Ashlina. Saya permisi dulu Bu”
- - - - - - -
“Ashlina Beatarisa
Putri, silahkan duduk” ucap Bu Sri sambil menatapku. Jujur, tatapan Bu Sri
membuatku sedikit merinding.
“Ashlina, ibu
langsung ke intinya saja, nilai tugas hingga nilai ujianmu sangat rendah,
banyak nilaimu yang tidak tuntas bahkan kehadiranmu di sekolah saja bisa
dihitung. Apa kamu ada masalah?”
Aku
hanya bisa terdiam.
Saat
ini, kata-kata pun
tak
bisa mengutarakan masalahku.
“Ashlina, ibu
tidak sedang berbicara dengan patung kan?”
“Ma..maa..
maafkan saya Bu Sri.” Tak sadar air mataku menetes, wajahku pucat, pikiranku
tiba-tiba kosong. Aku tak tau apa yang harus ku katakan lagi. Lantas aku pun
berlari kencang meninggalkan ruangan ini.
“Ashlinaaa!”
suara teriakan Bu Sri terdengar samar-samar memanggilku, aku tak peduli dan
terus berlari.
Langkah kaki ku
membuat aku tiba di rumah. Dadaku terasak, nafasku terengah-engah dan keringat
mulai membasahi wajahku.
Mama keluar
menghampiriku yang berdiri di depan pintu
“Lina! Masuk!
Ada hal penting!” mama mencengkram pergelangan tanganku dan menarikku menuju
kamar.
Aku melirik ke
arah mama dan bergumam dengan lirih
“Mama..?”
Mama melempar
semua barang di hadapannya termasuk foto kecilku dengan ayah.
PRANGGG, PYARR….
Bingkai foto itu
retak, foto yang selama ini ku pandangi setiap malam.
“Apa mama akan
bahagia jika anaknya berbohong? Selama ini kamu terlihat seperti anak gadis
yang baik, tiap hari ke sekolah, tiap malam belajar. TAPI APA? APA YANG KAMU
SEMBUNYIKAN DARI MAMA!!” bentakan mama membuat jiwaku goyah.
“Mama tidak
pernah puas dengan jati diriku yang sebenarnya!” jawabku dengan nada kecewa, “sebenarnya
aku tidak ingin membohongi Mama, Mama pikir aku sengaja berbohong. Suara Mama
berubah drastis saat aku bilang nilai ku B.”
“MAMA MEMBUATKU
BERPIKIR NILAIKU HARUS BAGUS AGAR DIANGGAP ANAK MAMA!!”
“Aku sudah lelah
hidup dengan semua tekanan dari Mama!”
“LINA!!!”
“Lina tidak mau
menjalani hidup yang sudah Mama tentukan! Mama pikir mama siapa sudah menuntut
Lina padahal Mama sendiri gagal!” Aku lega telah menyampaikan semua keluh
kesahku ke mama.
“Keluar dari
rumah ini! Kalau kamu tidak sanggup dengan aturan yang ada disini,
KELUAARRRR!!!” ini bukan pertama kalinya kulihat mama membentakku. Tapi kali
ini berbeda, aku trauma. Teriakan mama membuatku berpikir lebih dalam tentang
kejamnya kehidupan.
Aku menghela
napas dan langkahku perlahan mundur, menjauh dari hadapan mama. Dengan nada
kecewa aku berkata kepadanya “Maaf Ma, Lina akan pergi sejauh mungkin dari Mama,
jangan khawatir, kemanapun Mama mencari, Lina tak akan muncul”
Harapan pernah ada
Tapi kau hancurkan
Jiwaku pergi
Namun hatiku masih disini
Aku ingin segera menemukan kedamaian
Biarlah tulisan ini menjadi saksi
kesedihan yang ku rasakan
Inilah jalan hidupku
Inilah akhir yang kupilih
Akankah Mama menangis membaca ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar