Genap setahun hubunganku dengannya. Dengan sesosok laki-laki yang menggenggam tangan ayahku sembari mengucapkan akad di hadapan Allah dan para saksi. Ali namanya. Dia adalah lelaki yang baik, memperlakukanku dengan lembut, menyayangiku, menjagaku walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sebagaimana hujan menikam bumi, ‘sakit’ tetapi tetap bertahan dan menerima.
“Hi, kamu ada rencana ingin merayakan anniversary kita dimana, Jelitha?” tanyanya dengan hati-hati seraya menyuguhkan secangkir kopi kepadaku. Ia mulai membuka pembicaraan setelah sekian lama kami berdua larut dalam keheningan. “Aku tidak ingin merayakannya,” jawabku ketus. Suasana hatiku tak sejalan dengan langit cerah pagi hari ini.
“Bagaimana jika kita rayakan dengan shalat dhuha?” tanyanya kembali seolah tak mengerti dengan jawabanku tadi. “Aku sudah bilang tak ingin merayakannya!”
Aku sangat kesal dengannya. Apakah ia menganggap pernikahan ini adalah sebuah hubungan yang layak untuk dirayakan, aku disini hanyalah korban, korban dari keluargaku, aku tak pernah menerima pernikahan ini! Bagiku pernikahan ini hanyalah sampah, tak ada rasa cinta dalam pernikahan ini.
“Baiklah jika itu keinginanmu, aku ke kamar
sebentar.”
“Kamu ga kerja hari ini? Apa ga ada pasien yang butuh pengobatanmu?”. Dia adalah salah satu dokter di rumah sakit swasta. Aku terpaksa bertanya kepadanya, aku tak suka jika harus menghabiskan waktuku bersamanya di rumah ini, lebih baik dia pergi dan aku sendiri di sini.
“Tidak, aku izin untuk tidak kerja hari ini, aku
ingin mengobati diriku sendiri,” katanya sembari berjalan menuju kamar.
“Ah dasar laki-laki baperan, baru dibentak begitu saja sudah merasa sakit hmm,” keluhku.
Tinggal aku seorang diri, menikmati secangkir kopi yang ia sajikan. Sebenarnya ia tak bersalah, tapi aku membencinya.
‘Ting tung’ suara bel berbunyi.
Suara bel itu membuyarkan lamunanku. Aku pun
bergegas untuk membuka pintu, penasaran dengan gerangan siapa yang datang?
“Assalamualaikum,” salamnya sembari senyum kepadaku.
“Wa…walaikumsalam,” jawabku.
Tamu yang mengetuk pintu ternyata adalah ibu mertuaku. Namanya Halimah, ia adalah seorang penjahit ternama di kota ini.
“Kamu apa kabar, Jelitha?”
“Baik Bu, Ibu sendiri apa kabar?” tanyaku balik.
“Alhamdulillah, baik,” jawabnya ramah.
“Ibu ingin bertemu dengan Ali?” ia tersenyum kepadaku dan tak memberikan sebuah jawaban. Aku pun mempersilahkan ia duduk dan menawarkannya minum.
“Ibu permisi. Saya buatin minum dulu.” Baru
selangkah aku berjalan, beliau berkata “Tidak perlu repot-repot, Nak. Ibu
kesini ingin berbicara denganmu mengenai Ali.” Aku menatap heran mertuaku. Ada apa dengan Ali? Apakah ia mengadu ke
ibunya? Seperti anak gadis saja, huh!
Aku pun kembali ke posisi semula, duduk tenang di
sofa “Memang ada apa dengan Ali, Bu?” gerak-geriknya terlihat seperti sedang
khawatir. “Begini Nak, tapi tolong jangan beri tahu Ali ya, sebenarnya...”
kalimat wanita itu terpotong karena suara pecahan kaca yang berasal dari kamar.
Kami berdua bergegas menuju sumber suara.
Aku membuka pintu, sontak aku terkaget dibuatnya. Ku
dapati ia tergeletak di lantai.
“Astagfirullah, Ali. Kamu kenapa? Ayo ibu bantu
berdiri”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya kecapean,” jawabnya lemas.
“Sebaiknya kamu istirahat, sayang. Aku ingin
menyiapkan sarapan dulu.” Aku terpaksa bersikap baik kepadanya demi menjaga
image baik ku di depan mertuaku. “Loh, daritadi kalian belum sarapan?” tanya
ibu heran.
Aku menatap jam dinding telah menunjukkan pukul
10.00 AM. Tak terasa 3 jam berlalu hanya ku habiskan dengan lamunan. “Mmm, iya
Bu. Saya belum menyiapkan sarapan, karena...”
“karena rencananya kami ingin makan di luar Bu,” lelaki itu memotong pembicaraanku.
Jujur saja aku tak pernah menyiapkan sarapan untuknya, tak pernah membersihkan rumah dan sebagainya. Aku hanya mengurus diriku sendiri, aku tak pernah menjalankan tugasku layaknya istri di luar sana.
“Oh baiklah, sepertinya kedatangan ibu kemari
mengganggu kalian ya.” Ibu tersenyum kepada kami berdua, lalu melangkahkan kaki
keluar kamar. “Ibu pulang dulu ya, Assalamualaikum.”
Aku pun mengikuti langkah wanita itu, “Biar saya
antar ke depan Bu.”
“Ah ya, terima kasih.”
Setelah kepulangan mertuaku, aku pun kembali ke kamar. Lelaki itu terlihat seperti menahan rasa sakit di tempat tidur, aku lalu duduk di sampingnya.
“Kamu mau makan apa? Akan kubelikan,” aku
berpura-pura peduli dengannya. “Masakanmu,” dia terlihat berharap sekali. “Sampai
kapanpun aku tak akan melayanimu. Aku bukan pesuruhmu!”
“Ini bukan perintah, ini permintaanku,” nadanya
terdengar memelas.
“Tidak.” Aku teguh pada komitmenku, ia bangkit dari
tidurnya, tepat di telingaku ia membisikkan “Maaf”. Hanya satu kata yang ia
ucapkan membuat hatiku luluh. Tetapi aku selalu mengingat bahwa dialah orang
yang ku benci. Tanpa ku sadari air mataku menetes, “Aku tidak bisa, aku
membencimu.” Aku pun bangkit dan keluar dari ruangan itu. Baru kali ini aku
merasa bersalah, sikapku sudah keterlaluan.
Tak terasa langit telah gelap, dewi malam menampakkan dirinya di tengah awan, angin menari-nari di pepohonan depan rumah. Aku menatap intens cahaya dari rembulan melalui jendela kamarku.
Suamiku datang membuka pintu, “Kamu mau ku masakin apa?” ia terlihat sehat seperti sedia kala. Malam ini dia ingin merayakan satu tahun pernikahan kami. ‘Sederhana’, ia hanya memasak untukku lalu mematikan lampu dan membiarkan cahaya lilin yang menerangi malam kami. Aku hanya menuruti rencananya dengan lesu. “Nasi goreng saja,” jawabku tak semangat.
Lelaki itu mengiyakan keinginanku. Aku kembali melamun, pikiranku melayang entah kemana, batinku mulai mengeluh, Mengapa aku berada disini? Mengapa dia yang menjadi pilihan orangtua ku? Mengapa aku harus menuruti kemauan orangtua ku? Mengapa aku tidak kabur saja waktu itu?
“Masakannya sudah siap, ayo ke dapur.” Lagi-lagi ia membuyarkan lamunanku, aku tak beranjak dari tempatku. “Ayo sayang, keburu dingin,” paksanya sembari menarik pergelangan tanganku. Aku pun menurutinya.
Sesampainya di dapur, aku terkesima melihat pandangan di depanku. Tidak hanya jago memasak, ternyata ia juga berbakat dibidang table manner. Semua piranti makan tersusun rapi di atas meja, letak lilinnya pun tak kalah menarik. “Silahkan duduk, sayang.” Ia menarik kursi untukku. Aku hampir terlena dengan sikapnya, tetapi aku masih mengingat saat-saat dimana aku menangis ketika ia mengucapkan akad, bukan menangis bahagia, tetapi menangis sedih. Aku telah menikah dengan orang yang tak ku cinta.
“Aku matiin lampunya dulu ya.”
“Ya.” sahutku cuek.
Suasana di sekelilingku pun menjadi gelap, hanya
lilin yang menyinari gelapnya malam. Kami berdua pun memulainya dengan obrolan
singkat. Ia mulai memecah keheningan, “Aku berharap bisa merayakannya lagi
tahun depan, apa harapanmu?” dia bertanya kepadaku. “Kau tak perlu tau,” ucapku
lalu melahap makanan yang telah disajikan.
Aku berharap tak bertemu kamu lagi tahun depan...
Jika Allah menyayangiku, pastilah Ia akan memberikanku yang terbaik, aku sudah lelah menjalani hidupku yang sekarang. Kiranya Dia mengabulkan permohonanku ini. “Aku hanya ingin bersamamu.” Kali ini matanya berkaca-kaca, entah apa yang ia pikirkan, apapun itu aku tak peduli.
Tiba-tiba gemuruh angin membunuh cahaya yang sedari
tadi menemani malam kami. Tak ku percaya gelap menguasai ruangan ini begitu
saja. Di luar mulai terdengar suara petir dan tiap dentumannya membuat hatiku
bergetar. Aku takut dengan suara petir. Ku lihat ia menyinariku dengan LED
Flashnya, “Jangan takut aku disini.”
Entah datang darimana sikap anehku malam ini. Saat ia hendak mengambil alat penerangan yang lain, tiba-tiba aku memeluknya dari belakang. Lelaki itu tersentak, namun ia hanya terdiam selama beberapa saat, merasakan eratnya pelukanku. “Mengapa kau harus menjadi pilihan orangtua ku? Mengapa kau tak pernah bertanya apakah aku mencintaimu atau malah membencimu? Mengapa kau harus menjadi orang yang ku benci itu? Mengapa harus dirimu?”
Aku membenamkan kepalaku pada punggungnya yang kokoh, merasakan setiap kehangatan dan wangi tubuhnya yang memabukkan.
Sementara itu, Ali membelalak saat mendengar kalimat akhir dari ucapanku, “Mengapa kau harus menjadi orang yang ku benci itu?” ku rasa kalimatku terngiang-ngiang di telinganya. Ia terdiam kaku lalu membalas pertanyaanku, “mohon berhenti membenciku, akan tiba waktunya aku tak lagi menganggu hidupmu,” katanya tanpa menoleh ke arahku.
Ia lalu melepaskan pelukanku dan menatapku lekat, “I love you”. Ia menarikku ke dalam pelukannya, membiarkanku mendengar suara detak jantungnya yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Dia menumpukkan dagunya di atas puncak kepalaku. “I love you too,” aku tidak tahu bagaimana kata-kata itu bisa keluar begitu saja. Aku benar-benar terlena dengan sikapnya.
Tak terasa malam ini telah ku lewatkan bersamanya,
sekarang aku ingin beristirahat dan melupakan kejadian yang telah terjadi hari
ini. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Aku tidur di kamar yang berbeda dengan
suamiku. Tak ku ingin memikirkan kata-kata yang tadi ia lontarkan. Tetapi
otakku seakan memaksaku untuk memikirkannya. “Apa maksudnya akan tiba waktunya
aku tak lagi mengganggumu? ah sudahlah, ngapain aku repot-repot memikirkan
kalimat bualnya itu, pasti hanya sekedar omong kosong belaka.” Aku pun
memejamkan mata, sesaat kemudian diriku telah menyentuh bayang-bayang impian.
Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Tak ku
dapati dirinya di rumah ini, aku hanya melihat secarik kertas berisi pesan
darinya di meja makan. “Maaf besok aku
tak lagi menyiapkan sarapan untukmu,
I love u.” Tanpa mencicipi masakannya sedikitpun, aku bersiap-siap untuk
menemui dirinya di rumah sakit tempat ia bekerja. Entah apa yang ada
dipikiranku, aku gugup sekali.
Akhirnya aku tiba di tempat tujuanku, ku langkahkan kakiku menuju ruangannya. Tak kusangka, diriku malah bertemu dengan ibu Halimah. “Ibu kok disini?” tanyaku was-was. Ia terdiam kaku, seakan-akan menyembunyikan sesuatu. “Ibu hanya… hanya..” tak sempat ia selesaikan kalimatnya, wanita itu pun menangis. “Ibu mohon beri tau saya, ada apa Bu?” aku bertambah panik. “Maaf Nak. Ibu tak bermaksud apa-apa. Ali sedang dalam kondisi kritis,” jawabnya sambil terisak.
Setelah ibu mertuaku memberitahu ruangan yang di tempati Ali, aku terburu-buru untuk mencapainya. “Ya Allah, semoga tak terjadi sesuatu yang buruk.”
Di depan ruangan dimana suamiku berjuang melawan penyakitnya. Di sana berdiri seorang lelaki tua, ialah mertuaku. Beliau menceritakan bahwa sejak 3 tahun yang lalu, Ali mengidap penyakit kanker hati. Ia lalu meminta maaf kepadaku dan menyerahkan sebuah surat dari Ali untukku. “Jika Ali pernah menyakiti nak Jelitha, tolong dimaafkan ya.” Aku pun membuka surat dari Ali.
Jelitha, sesuai
namanya..
Gadis cantik
yang ku pinang
Dikala itu,
engkau meneteskan air mata kesedihan
Seakan tak terima, diriku akan menjadi bagian dihidupmu
Sekarang, aku
pergi..
Ragaku telah
mati, jiwaku telah pergi
Tapi, yakinlah cintaku akan terus tumbuh bersamamu
Cukuplah engkau
meneteskan air mata dihari pertemuan kita
Jangan lakukan
itu lagi dihari perpisahan kita
Aku ingin pergi
tenang
Tanpa diiringi
kesedihan orang ku cinta
Love U
Dari suamimu
Yang tak kau
cinta
Setelah menunggu sekian lama, seorang dokter keluar dan memberitahu kami bahwa Ali telah meninggal. Aku masuk di ruangan itu, ku lihat sebuah tubuh terbaring kaku yang ditutup kain putih. Aku tak bisa menahan air mataku yang terus menetes. Orangtua Ali berusaha membuatku tenang. Tak kusangka ia pergi secepat ini.
Aku benar-benar kehilangan kerabatku yang terdekat,
teman hidupku, dan aku takkan pernah lagi mempunyai kesempatan menikmati cinta
dari lelaki yang menjadi suamiku setahun ini. Aku menyesal membiarkan ia
berjuang sendirian, ditambah dengan sikapku yang membuatnya semakin terluka.
Aku sekarang sadar bahwa aku mencintainya.