Sabtu, 16 Oktober 2021

CERPEN "CINTA MENGAPA KAU PERGI"


Genap setahun hubunganku dengannya. Dengan sesosok laki-laki yang menggenggam tangan ayahku sembari mengucapkan akad di hadapan Allah dan para saksi. Ali namanya. Dia adalah lelaki yang baik, memperlakukanku dengan lembut, menyayangiku, menjagaku walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sebagaimana hujan menikam bumi, ‘sakit’ tetapi tetap bertahan dan menerima.

“Hi, kamu ada rencana ingin merayakan anniversary kita dimana, Jelitha?” tanyanya dengan hati-hati seraya menyuguhkan secangkir kopi kepadaku. Ia mulai membuka pembicaraan setelah sekian lama kami berdua larut dalam keheningan. “Aku tidak ingin merayakannya,” jawabku ketus. Suasana hatiku tak sejalan dengan langit cerah pagi hari ini.

“Bagaimana jika kita rayakan dengan shalat dhuha?” tanyanya kembali seolah tak mengerti dengan jawabanku tadi. “Aku sudah bilang tak ingin merayakannya!”

Aku sangat kesal dengannya. Apakah ia menganggap pernikahan ini adalah sebuah hubungan yang layak untuk dirayakan, aku disini hanyalah korban, korban dari keluargaku, aku tak pernah menerima pernikahan ini! Bagiku pernikahan ini hanyalah sampah, tak ada rasa cinta dalam pernikahan ini.

“Baiklah jika itu keinginanmu, aku ke kamar sebentar.”

“Kamu ga kerja hari ini? Apa ga ada pasien yang butuh pengobatanmu?”. Dia adalah salah satu dokter di rumah sakit swasta. Aku terpaksa bertanya kepadanya, aku tak suka jika harus menghabiskan waktuku bersamanya di rumah ini, lebih baik dia pergi dan aku sendiri di sini.

“Tidak, aku izin untuk tidak kerja hari ini, aku ingin mengobati diriku sendiri,” katanya sembari berjalan menuju kamar.

“Ah dasar laki-laki baperan, baru dibentak begitu saja sudah merasa sakit hmm,” keluhku.

Tinggal aku seorang diri, menikmati secangkir kopi yang ia sajikan. Sebenarnya ia tak bersalah, tapi aku membencinya.


‘Ting tung’ suara bel berbunyi.

 

Suara bel itu membuyarkan lamunanku. Aku pun bergegas untuk membuka pintu, penasaran dengan gerangan siapa yang datang?

 

“Assalamualaikum,” salamnya sembari senyum kepadaku.

“Wa…walaikumsalam,” jawabku.

Tamu yang mengetuk pintu ternyata adalah ibu mertuaku. Namanya Halimah, ia adalah seorang penjahit ternama di kota ini.

“Kamu apa kabar, Jelitha?”

“Baik Bu, Ibu sendiri apa kabar?” tanyaku balik.

“Alhamdulillah, baik,” jawabnya ramah.

“Ibu ingin bertemu dengan Ali?” ia tersenyum kepadaku dan tak memberikan sebuah jawaban. Aku pun mempersilahkan ia duduk dan menawarkannya minum.

“Ibu permisi. Saya buatin minum dulu.” Baru selangkah aku berjalan, beliau berkata “Tidak perlu repot-repot, Nak. Ibu kesini ingin berbicara denganmu mengenai Ali.” Aku menatap heran mertuaku. Ada apa dengan Ali? Apakah ia mengadu ke ibunya? Seperti anak gadis saja, huh!

 

Aku pun kembali ke posisi semula, duduk tenang di sofa “Memang ada apa dengan Ali, Bu?” gerak-geriknya terlihat seperti sedang khawatir. “Begini Nak, tapi tolong jangan beri tahu Ali ya, sebenarnya...” kalimat wanita itu terpotong karena suara pecahan kaca yang berasal dari kamar. Kami berdua bergegas menuju sumber suara.

 

Aku membuka pintu, sontak aku terkaget dibuatnya. Ku dapati ia tergeletak di lantai.

“Astagfirullah, Ali. Kamu kenapa? Ayo ibu bantu berdiri”

“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya kecapean,” jawabnya lemas.

“Sebaiknya kamu istirahat, sayang. Aku ingin menyiapkan sarapan dulu.” Aku terpaksa bersikap baik kepadanya demi menjaga image baik ku di depan mertuaku. “Loh, daritadi kalian belum sarapan?” tanya ibu heran.

 

Aku menatap jam dinding telah menunjukkan pukul 10.00 AM. Tak terasa 3 jam berlalu hanya ku habiskan dengan lamunan. “Mmm, iya Bu. Saya belum menyiapkan sarapan, karena...”

“karena rencananya kami ingin makan di luar Bu,” lelaki itu memotong pembicaraanku.

Jujur saja aku tak pernah menyiapkan sarapan untuknya, tak pernah membersihkan rumah dan sebagainya. Aku hanya mengurus diriku sendiri, aku tak pernah menjalankan tugasku layaknya istri di luar sana.

“Oh baiklah, sepertinya kedatangan ibu kemari mengganggu kalian ya.” Ibu tersenyum kepada kami berdua, lalu melangkahkan kaki keluar kamar. “Ibu pulang dulu ya, Assalamualaikum.”

Aku pun mengikuti langkah wanita itu, “Biar saya antar ke depan Bu.”

“Ah ya, terima kasih.”

 

Setelah kepulangan mertuaku, aku pun kembali ke kamar. Lelaki itu terlihat seperti menahan rasa sakit di tempat tidur, aku lalu duduk di sampingnya.

“Kamu mau makan apa? Akan kubelikan,” aku berpura-pura peduli dengannya. “Masakanmu,” dia terlihat berharap sekali. “Sampai kapanpun aku tak akan melayanimu. Aku bukan pesuruhmu!”

“Ini bukan perintah, ini permintaanku,” nadanya terdengar memelas.

“Tidak.” Aku teguh pada komitmenku, ia bangkit dari tidurnya, tepat di telingaku ia membisikkan “Maaf”. Hanya satu kata yang ia ucapkan membuat hatiku luluh. Tetapi aku selalu mengingat bahwa dialah orang yang ku benci. Tanpa ku sadari air mataku menetes, “Aku tidak bisa, aku membencimu.” Aku pun bangkit dan keluar dari ruangan itu. Baru kali ini aku merasa bersalah, sikapku sudah keterlaluan.

 

Tak terasa langit telah gelap, dewi malam menampakkan dirinya di tengah awan, angin menari-nari di pepohonan depan rumah. Aku menatap intens cahaya dari rembulan melalui jendela kamarku.

Suamiku datang membuka pintu, “Kamu mau ku masakin apa?” ia terlihat sehat seperti sedia kala. Malam ini dia ingin merayakan satu tahun pernikahan kami. ‘Sederhana’, ia hanya memasak untukku lalu mematikan lampu dan membiarkan cahaya lilin yang menerangi malam kami. Aku hanya menuruti rencananya dengan lesu. “Nasi goreng saja,” jawabku tak semangat.

Lelaki itu mengiyakan keinginanku. Aku kembali melamun, pikiranku melayang entah kemana, batinku mulai mengeluh, Mengapa aku berada disini? Mengapa dia yang menjadi pilihan orangtua ku? Mengapa aku harus menuruti kemauan orangtua ku? Mengapa aku tidak kabur saja waktu itu?

“Masakannya sudah siap, ayo ke dapur.” Lagi-lagi ia membuyarkan lamunanku, aku tak beranjak dari tempatku. “Ayo sayang, keburu dingin,” paksanya sembari menarik pergelangan tanganku. Aku pun menurutinya.

Sesampainya di dapur, aku terkesima melihat pandangan di depanku. Tidak hanya jago memasak, ternyata ia juga berbakat dibidang table manner. Semua piranti makan tersusun rapi di atas meja, letak lilinnya pun tak kalah menarik. “Silahkan duduk, sayang.” Ia menarik kursi untukku. Aku hampir terlena dengan sikapnya, tetapi aku masih mengingat saat-saat dimana aku menangis ketika ia mengucapkan akad, bukan menangis bahagia, tetapi menangis sedih. Aku telah menikah dengan orang yang tak ku cinta.

“Aku matiin lampunya dulu ya.”

“Ya.” sahutku cuek.

Suasana di sekelilingku pun menjadi gelap, hanya lilin yang menyinari gelapnya malam. Kami berdua pun memulainya dengan obrolan singkat. Ia mulai memecah keheningan, “Aku berharap bisa merayakannya lagi tahun depan, apa harapanmu?” dia bertanya kepadaku. “Kau tak perlu tau,” ucapku lalu melahap makanan yang telah disajikan.


Aku berharap tak bertemu kamu lagi tahun depan... 

Jika Allah menyayangiku, pastilah Ia akan memberikanku yang terbaik, aku sudah lelah menjalani hidupku yang sekarang. Kiranya Dia mengabulkan permohonanku ini. “Aku hanya ingin bersamamu.” Kali ini matanya berkaca-kaca, entah apa yang ia pikirkan, apapun itu aku tak peduli.

Tiba-tiba gemuruh angin membunuh cahaya yang sedari tadi menemani malam kami. Tak ku percaya gelap menguasai ruangan ini begitu saja. Di luar mulai terdengar suara petir dan tiap dentumannya membuat hatiku bergetar. Aku takut dengan suara petir. Ku lihat ia menyinariku dengan LED Flashnya, “Jangan takut aku disini.”

 

Entah datang darimana sikap anehku malam ini. Saat ia hendak mengambil alat penerangan yang lain, tiba-tiba aku memeluknya dari belakang. Lelaki itu tersentak, namun ia hanya terdiam selama beberapa saat, merasakan eratnya pelukanku. “Mengapa kau harus menjadi pilihan orangtua ku? Mengapa kau tak pernah bertanya apakah aku mencintaimu atau malah membencimu? Mengapa kau harus menjadi orang yang ku benci itu? Mengapa harus dirimu?”

Aku membenamkan kepalaku pada punggungnya yang kokoh, merasakan setiap kehangatan dan wangi tubuhnya yang memabukkan.

Sementara itu, Ali membelalak saat mendengar kalimat akhir dari ucapanku, “Mengapa kau harus menjadi orang yang ku benci itu?” ku rasa kalimatku terngiang-ngiang di telinganya. Ia terdiam kaku lalu membalas pertanyaanku, “mohon berhenti membenciku, akan tiba waktunya aku tak lagi menganggu hidupmu,” katanya tanpa menoleh ke arahku.

Ia lalu melepaskan pelukanku dan menatapku lekat, “I love you”. Ia menarikku ke dalam pelukannya, membiarkanku mendengar suara detak jantungnya yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Dia menumpukkan dagunya di atas puncak kepalaku. “I love you too,” aku tidak tahu bagaimana kata-kata itu bisa keluar begitu saja. Aku benar-benar terlena dengan sikapnya.

Tak terasa malam ini telah ku lewatkan bersamanya, sekarang aku ingin beristirahat dan melupakan kejadian yang telah terjadi hari ini. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Aku tidur di kamar yang berbeda dengan suamiku. Tak ku ingin memikirkan kata-kata yang tadi ia lontarkan. Tetapi otakku seakan memaksaku untuk memikirkannya. “Apa maksudnya akan tiba waktunya aku tak lagi mengganggumu? ah sudahlah, ngapain aku repot-repot memikirkan kalimat bualnya itu, pasti hanya sekedar omong kosong belaka.” Aku pun memejamkan mata, sesaat kemudian diriku telah menyentuh bayang-bayang impian.


Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Tak ku dapati dirinya di rumah ini, aku hanya melihat secarik kertas berisi pesan darinya di meja makan. “Maaf besok aku tak lagi menyiapkan sarapan untukmu, I love u.” Tanpa mencicipi masakannya sedikitpun, aku bersiap-siap untuk menemui dirinya di rumah sakit tempat ia bekerja. Entah apa yang ada dipikiranku, aku gugup sekali.

 

Akhirnya aku tiba di tempat tujuanku, ku langkahkan kakiku menuju ruangannya. Tak kusangka, diriku malah bertemu dengan ibu Halimah. “Ibu kok disini?” tanyaku was-was. Ia terdiam kaku, seakan-akan menyembunyikan sesuatu. “Ibu hanya… hanya..” tak sempat ia selesaikan kalimatnya, wanita itu pun menangis. “Ibu mohon beri tau saya, ada apa Bu?” aku bertambah panik. “Maaf Nak. Ibu tak bermaksud apa-apa. Ali sedang dalam kondisi kritis,” jawabnya sambil terisak.

Setelah ibu mertuaku memberitahu ruangan yang di tempati Ali, aku terburu-buru untuk mencapainya. “Ya Allah, semoga tak terjadi sesuatu yang buruk.”

Di depan ruangan dimana suamiku berjuang melawan penyakitnya. Di sana berdiri seorang lelaki tua, ialah mertuaku. Beliau menceritakan bahwa sejak 3 tahun yang lalu, Ali mengidap penyakit kanker hati. Ia lalu meminta maaf kepadaku dan menyerahkan sebuah surat dari Ali untukku. “Jika Ali pernah menyakiti nak Jelitha, tolong dimaafkan ya.” Aku pun membuka surat dari Ali.

Jelitha, sesuai namanya..

Gadis cantik yang ku pinang

Dikala itu, engkau meneteskan air mata kesedihan

Seakan tak terima, diriku akan menjadi bagian dihidupmu

Sekarang, aku pergi..

Ragaku telah mati, jiwaku telah pergi

Tapi, yakinlah cintaku akan terus tumbuh bersamamu

Cukuplah engkau meneteskan air mata dihari pertemuan kita

Jangan lakukan itu lagi dihari perpisahan kita

Aku ingin pergi tenang

Tanpa diiringi kesedihan orang ku cinta

Love U

Dari suamimu

Yang tak kau cinta

 

Setelah menunggu sekian lama, seorang dokter keluar dan memberitahu kami bahwa Ali telah meninggal. Aku masuk di ruangan itu, ku lihat sebuah tubuh terbaring kaku yang ditutup kain putih. Aku tak bisa menahan air mataku yang terus menetes. Orangtua Ali berusaha membuatku tenang. Tak kusangka ia pergi secepat ini.

Aku benar-benar kehilangan kerabatku yang terdekat, teman hidupku, dan aku takkan pernah lagi mempunyai kesempatan menikmati cinta dari lelaki yang menjadi suamiku setahun ini. Aku menyesal membiarkan ia berjuang sendirian, ditambah dengan sikapku yang membuatnya semakin terluka. Aku sekarang sadar bahwa aku mencintainya.


CERPEN "AIR MATA DAN HARAPAN"

Kata mereka, keluarga adalah tempat terbaik untuk mencari kebahagiaan..

Kata mereka, rumah adalah tempat ternyaman untuk beristirahat..

Ya, itu semua kata mereka…

Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah aku mendapatkannya? Inilah kisahku, kisah pilu yang tak seharusnya aku rasakan..

Namaku Ashlina Beatarisa Putri, biasa dipanggil Lina atau Lin. Hari ini, usiaku genap 17 tahun. Diusiaku yang beranjak dewasa ini, aku berharap agar diriku tetap kuat menjalani hidup.

“Selamat ulang tahun untuk jiwa yang pantang menyerah!” ucapku kepada diri sendiri

Menjelang sore tiba, cuaca mendung menghampiri siang yang tadinya tersenyum cerah. Dari bibir pantai aku menatap ombak berkejaran, “andai saja aku adalah ombak di lautan, betapa bebasnya aku”

Ponselku tiba-tiba berdering.

“LINA PULANG!” bentak seorang wanita di seberang telepon. “I.ii..iya Ma” jawabku gugup.

Tuttt… Tuttt… Tuttt…

Aku menggenggam ponselku dengan erat, hembusan angin membelai rambutku seakan berkata ‘jangan menangis’ kepadaku. Tak kusadar, air mata ini menetes dengan sendirinya.

“Aku harus pulang, mama pasti mencariku,” batinku.

Sepanjang jalan aku hanya termenung, tatapan kosong ke depan dan perasaan was-was menyelimutiku.

“Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang jam segini? Kamu lupa peraturan rumah? KAMU LUPA SIAPA YANG BERI KAMU MAKAN HAH!” ucap wanita paru baya dengan nada yang semakin meninggi

“CUKUP MA!” aku memejam mataku, bibirku bergetar hebat “Lina pengen istirahat sebentar saja ya Ma” Aku tak peduli dengan ocehan mamaku lagi dan menerobos masuk ke kamar.

“LINA! LINA!!! ANAK KURANG AJAR!” Mamaku mengumpat di balik pintu kamarku “LINA! KALAU NILAI UJIANMU ANJLOK LAGI JANGAN HARAP BISA TIDUR DISINI! DENGAR!!”

Aku selalu dituntut sempurna untuk apapun itu, mama tak pernah sudi menerima kekurangan anaknya. Baginya, aku adalah satu-satunya harapan untuk mengubah nasib keluarga ini. Ayah telah lama pergi meninggalkan kami, meninggalkan anak dan istrinya serta kenangan di rumah ini. Kebangkrutan perusahaan tempat ayah bekerja membuat ayah di PHK, ayah tak bisa terima dengan keadaan itu lantas memutuskan untuk menceraikan mama dan menikahi wanita lain yang kaya raya.

Mama meluapkan semua amarahnya kepadaku. Aku tau mama adalah korban keegoisan ayah. Tapi mengapa harus aku? Mengapa aku yang menanggung rasa sakit hati yang mama rasakan.

Sinar mentari menyambut pagiku yang suram. Baru saja aku mencoba menghirup udara segar, teriakan mama langsung menyapa hariku.

“LINA BANGUN!! CEPAT KE SEKOLAH!!”

“Iya Ma, sabar” jawabku melas setengah sadar.

“Mandi lalu sarapan!” terasa aneh, entah kenapa sikap mama pagi ini membuatku curiga.

Aku meneguk jus jeruk dengan terburu. Membiarkan setangkup roti bakar berlapis keju dan segelas susu beraroma vanilla, diam di tempatnya.

“Kenapa tidak sarapan, hanya minum? Mama menatapku heran. Aku pun menatap balik dengan heran.

Tak biasanya mama menyiapkanku sarapan, “maaf Ma, aku sudah telat”

“Kalau begitu dibungkus saja. Nanti jam istirahat jangan lupa dimakan” dan tanpa menunggu persetujuanku, mama telah memasukkan roti bakar ke dalam kotak bekalku.

“Hmm, terima kasih Ma” aku menatap wajah mamaku sebentar lalu berjalan ke luar.

Apakah mama telah sadar?

Tanpa sadar aku tersenyum tipis, berharap penderitaan ini segera berakhir.~

 - - - - - - -

“Lin? Kamu dipanggil Ibu Sri di ruang guru” tukas Wildan, ketua kelasku.

“Ibu Sri?” tanyaku heran

“Ia, Ibu Sri wali kelas kita, masa kamu lupa?

“Aku tau, maksudku.. kenapa Ibu memanggilku?”

“Entahlah, ikut saja” jawabnya seraya menuntunku menuju ruang guru.

 

*TOK TOK*

Wildan membuka pintu dan memberi salam “permisi Bu/Pak” kami melangkah kecil menuju meja bu Sri

“Ini Bu, si Ashlina. Saya permisi dulu Bu”

- - - - - - -

“Ashlina Beatarisa Putri, silahkan duduk” ucap Bu Sri sambil menatapku. Jujur, tatapan Bu Sri membuatku sedikit merinding.

“Ashlina, ibu langsung ke intinya saja, nilai tugas hingga nilai ujianmu sangat rendah, banyak nilaimu yang tidak tuntas bahkan kehadiranmu di sekolah saja bisa dihitung. Apa kamu ada masalah?”

 

Aku hanya bisa terdiam.

Saat ini, kata-kata pun

tak bisa mengutarakan masalahku.

 

“Ashlina, ibu tidak sedang berbicara dengan patung kan?”

“Ma..maa.. maafkan saya Bu Sri.” Tak sadar air mataku menetes, wajahku pucat, pikiranku tiba-tiba kosong. Aku tak tau apa yang harus ku katakan lagi. Lantas aku pun berlari kencang meninggalkan ruangan ini.

“Ashlinaaa!” suara teriakan Bu Sri terdengar samar-samar memanggilku, aku tak peduli dan terus berlari.

 

Langkah kaki ku membuat aku tiba di rumah. Dadaku terasak, nafasku terengah-engah dan keringat mulai membasahi wajahku.

Mama keluar menghampiriku yang berdiri di depan pintu

“Lina! Masuk! Ada hal penting!” mama mencengkram pergelangan tanganku dan menarikku menuju kamar.

 

Aku melirik ke arah mama dan bergumam dengan lirih

“Mama..?”

 

Mama melempar semua barang di hadapannya termasuk foto kecilku dengan ayah.

PRANGGG, PYARR….

Bingkai foto itu retak, foto yang selama ini ku pandangi setiap malam.

 

“Apa mama akan bahagia jika anaknya berbohong? Selama ini kamu terlihat seperti anak gadis yang baik, tiap hari ke sekolah, tiap malam belajar. TAPI APA? APA YANG KAMU SEMBUNYIKAN DARI MAMA!!” bentakan mama membuat jiwaku goyah.

 

“Mama tidak pernah puas dengan jati diriku yang sebenarnya!” jawabku dengan nada kecewa, “sebenarnya aku tidak ingin membohongi Mama, Mama pikir aku sengaja berbohong. Suara Mama berubah drastis saat aku bilang nilai ku B.”

“MAMA MEMBUATKU BERPIKIR NILAIKU HARUS BAGUS AGAR DIANGGAP ANAK MAMA!!”

“Aku sudah lelah hidup dengan semua tekanan dari Mama!”

 

“LINA!!!”

 

“Lina tidak mau menjalani hidup yang sudah Mama tentukan! Mama pikir mama siapa sudah menuntut Lina padahal Mama sendiri gagal!” Aku lega telah menyampaikan semua keluh kesahku ke mama.

 

“Keluar dari rumah ini! Kalau kamu tidak sanggup dengan aturan yang ada disini, KELUAARRRR!!!” ini bukan pertama kalinya kulihat mama membentakku. Tapi kali ini berbeda, aku trauma. Teriakan mama membuatku berpikir lebih dalam tentang kejamnya kehidupan.

 

Aku menghela napas dan langkahku perlahan mundur, menjauh dari hadapan mama. Dengan nada kecewa aku berkata kepadanya “Maaf Ma, Lina akan pergi sejauh mungkin dari Mama, jangan khawatir, kemanapun Mama mencari, Lina tak akan muncul”

 

Harapan pernah ada

Tapi kau hancurkan

Jiwaku pergi

Namun hatiku masih disini

Aku ingin segera menemukan kedamaian

Biarlah tulisan ini menjadi saksi

kesedihan yang ku rasakan

Inilah jalan hidupku

Inilah akhir yang kupilih

Akankah Mama menangis membaca ini?

 

CERPEN "CAHAYA YANG KINI REDUP"

Kematian bisa datang kapan saja. Tak mengenal waktu dan tempat. Kematian adalah hal yang menyakitkan tapi kematian itu pula yang dapat merubah orang lain. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok, dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.

- - - - - - -

Aku menatap benci ke arah pria tua berbaju lusuh di seberang jalan. Tangannya melambai dan di wajahnya terukir sebuah senyuman. Aku cuek. Tetap berdiri. Sedangkan dia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju ke arahku.

“Lama ya he he” ucapnya sumringah sambil memegang dua bungkus mie instan

“Ayo cepat jalan, saya malu”

“Iya sabar ya Nak”

Ya, pria tua berbaju lusuh itu adalah ayahku. Ayah tak pernah ku inginkan kehadirannya di sisiku. Sepeninggalnya ibu 2 tahun yang lalu, ayah menjadi tak terawat dan sakit-sakitan. Keperawakannya terlihat lusuh, wajahnya selalu muram, bibirnya pucat dan matanya sayu. Usianya sudah setengah abad, namun masih saja menyusahkanku.

“Tolong sekalian buatkan ayah” ucapnya pelan. Aku membuka bungkus mie instan ini dan memasukkannya ke dalam panci yang telah usang.

Aku adalah anak lelaki tunggal di rumah ini. Hanya kami berdua yang tinggal di gubuk yang disebut sebagai rumah. Yaaa.. hanya ada aku dan si mayat hidup itu.

Aku menyerahkan sepiring mie instan kepadanya “ini!”

“Terima kasih Nak” ia tersenyum ke arahku. Bosan sekali harus menjalani hidup dengannya, harus menggantikan peran ibu untuk mengurus rumah. Sungguh membosankan. Aku juga ingin hidup layaknya pemuda di luar sana. Di usiaku yang ke-20 ini, aku bahkan tidak pernah merasakan nikmatnya ngopi di warkop, nongkrong dengan teman sebaya, bahkan aku tidak merasakan indahnya perkuliahan dan harus bekerja serabutan demi menghidupi diriku sendiri dengan ayahku.

Kami berbincang-bincang di ruangan sempit beralaskan kardus bekas, aku memulai pembicaraan dan mengeluarkan keluh kesahku selama ini “sampai kapan kita hidup terluntang-lantung Ayah?”

Ayah tak menjawab.

“Saya lelah, saya lelah harus mengurus dan menghidupi Ayah. Setelah ibu meninggal, Ayah berhenti kerja, hasil serabutan saya saja tidak cukup untuk makan kita sehari-hari”

Pria tua itu mulai mengeluarkan suara “maaf kalau ayah merepotkanmu, Afdal”

“MAAF, MAAF DAN MAAF!” aku mulai meninggikan nada bicaraku “maaf saja terus! Ayah sebut kata itu seribu kali pun, kita akan hidup seperti ini saja!”

Aku meninggalkan ruangan itu dan membiarkan ayah merenungi kesalahannya.

Kematian ibu seharusnya bukan menjadi alasan baginya untuk berhenti kerja dan hanya berdiam diri di rumah hingga sakit-sakitan.

 - - - - - - -

Matahari telah menunjukkan eksistensinya, sinarnya mulai masuk melalui cela-cela jendela kamar, aku membuka mata dan mulai menjalani keseharianku. Dari sisi lain, aku melihat ayah menyeruput kopi hangat, “nikmat sekali ya!” ucapku dengan sarkas. “saya bahkan tidak dibuatkan kopi, padahal saya yang mencari uang”

“Se..sebentar, ayah rebus air” balasnya terbata-bata seraya menyalakan kompor

“Tidak perlu, saya buru-buru”

“Tunggulah sebentar, Nak. Ada yang ingin ayah sampaikan juga”

Aku tak menggubris omongannya dan terus melanjutkan kegiatanku.

“AFDAAL” ku dengar teriakannya dengan suara serak, ia terus memanggilku seakan ada hal yang sangat penting “Afdal, kemariii!” tapi tetap saja aku tak menoleh ke arahnya dan terus melangkah keluar rumah.

Ia menghampiriku keluar. Sekilas kulihat wajahnya yang cemas. Aku tak peduli dan langsung meninggalkannya.

- - - - - - - - -

Selalu terbesit dipikiranku tentang ayah, apa yang ingin disampaikannya? “Aku harus pulang sebentar kayaknya” aku yang tadinya mengangkat karung beras kini berhenti, teman sesama kerjaku kini berteriak “Bro cepetan jalan! Jalannya sempit ini, jangan berhenti!” teriakannya membuatku tersadar dari lamunan, “maaf Mang”

Aku beristirahat sebentar di teras toko milik bos ku, kulihat sosok ayahku dari kejauhan. Ia berlari menujuku sambil memegang sebuah amplop putih entah berisikan apa. Lelaki tua itu menengok kanan kiri lalu menatapku dengan bahagia. Ia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan. Namun, sesuatu yang tak kuduga tiba-tiba terjadi. Sebuah sepeda motor melaju dengan kencang. Dan mataku nanar menyaksikan tubuh renta ayahku itu terlempar beberapa meter di jalanan. Aku pias dan segera berlari menghampiri tubuh tergeletak tak berdaya itu.

“A..ay..ayah?” bibirku bergetar menyebut namanya. Simpang siur suara orang dan ambulan beradu. Segera, tubuh tak berdaya itu dilarikan ke rumah sakit.

aku menatap dengan penuh ketidakpercayaan atas kejadian ini. Tubuh renta itu kini terbaring di bawah kain putih, nafasnya telah berhenti, jantungnya tak berfungsi.

“Ayah, kenapa? KENAPAAAA?” aku berteriak lalu menangis sejadi-jadinya. Semarah dan sebenci apapun aku ke orang ini, namun detik ini aku kehilangan alasan untuk membencinya.

Aku larut dalam kesedihan.

“Ini milik almarhum” kata perawat yang menghampiriku

Kubuka amplop putih milik ayahku yang ia genggam sebelum peristiwa nahas itu.

“Ternyata isinya sebuah surat” batinku

 

Teruntuk anakku, Afdal

Tak ada yang muncul setelah kegelapan,

selain cahaya…

Tak ada yang muncul setelah kesedihan,

selain kebahagiaan…

Sudah cukup perjuangan ibu dan ayah

Lanjutkan kamu yang berjuang

Di dalam sebuah panci tua di ujung dapur,

ayah selipkan buku tabungan beserta atm nya

2207 adalah tanggal lahirmu, itu juga pin atm nya

Jumlah uang di tabungan itu adalah hasil kerja ayah selama ini

yang ayah sisihkan untuk masa depan kamu

Jangan pernah membenci ayah~

 

Aku hanya bisa menangis dengan penuh penyesalan. Kini kusadari arti kehadiran seseorang. Ternyata yang ku inginkan hanyalah sesosok ibu dan ayah, yang ku rindukan rupanya adalah kehangatan dalam sebuah keluarga.

Penyesalan selalu datang di akhir.

Tapi, kuharap kematian ayah adalah jembatan untuk menemui orang yang dincintainya, yaitu ibu.

 

 

 


CERPEN "SEPOTONG KISAH DI PENGHUJUNG SENJA IBU KOTA"

Lelaki di penghujung senjanya, dengan helai-helai rambut yang mengelabu, duduk di belakang gerobak dorong bermuatan abu gosok, melepas mentari menuju peraduannya. Pandangannya tampak menerawang. Sementara aku berjalan melewatinya tanpa berpikir apa-apa. Melenggang begitu saja. Kemudian terbesit untukku menyapa.

Kucoba mengeluarkan kata, menembus bisingnya derum tak beraturan suara kendaraan.

“Jualan apa, Pak?” tanyaku mengawali.

“Abu gosok, Nak. Mau belikah?” Ia melontarkan tanya yang kusambut dengan anggukan meskipun aku tidak memiliki ide, untuk apa abu gosok itu nantinya.

Laki-laki tua itu dengan tangan keriputnya perlahan membungkuskan abu. Ia masukkan ke plastik dan disodorkannya padaku.

“Berapa harganya, Pak?” tanyaku 

“Tiga ribu rupiah, Nak.” Kuserahkan selembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol padanya. Kemudian ia merogoh kantong mencari kembalian untukku. Namun hasilnya nihil. Lirih ia berkata, “Maaf, Nak. Tidak ada kembalian”

“Tak apa, Pak. Buat Bapak saja kembaliannya,” kataku. Ia nampak keberatan tapi akhirnya mau menerimanya.

Aku melanjutkan bercakap dengannya hingga terpetik suara seruan untuk menegakkan sholat magrib. Wajah rentanya menunduk. Ia tampak menelan ludah. Jakun tuanya naik turun. Tampak rindu siraman air pelepas dahaga.

“Bapak puasa?” tanyaku. Ia mengangguk. Kemudian kuserahkan sebungkus makanan dan sebotol air minum yang tadi memang kubeli untuk berbuka puasa.

“Ini, Pak. Tadi kebetulan saya beli makanan lebih,” kataku dengan sopan. Sejenak ia ragu untuk menerimanya. Namun, aku sedikit memaksakan agar ia mau menerimanya. Ia menerimanya sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kemudian aku pamit meninggalkannya.

- - - - - - - - - - -

Senja ini, aku tengah menikmati tenggelamnya mentari dari balik jendela lantai 20 salah satu gedung di Ibu Kota dengan penuh syukur. Di tanganku tergenggam sebungkus abu gosok yang kubeli kala itu.

Sayup-sayup kembali kudengar percakapanku dengan laki-laki penjual abu gosok beberapa tahun silam. Wajah tuanya bersama gerobak abu gosok kembali membayang di depan mata.

“Laa haulla wa laa quwwata illaa billaah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, Nak,” jawab laki-laki itu ketika ku tanya apa yang menjadikannya tetap bertahan berjualan meskipun sudah berusia lanjut.

“Setiap kekuatan, setiap harta, setiap prestasi yang kita miliki itu atas campur tangan Allah, Nak. Dan juga rizki datang ketika kita mau berusaha, itu yang membuatku tidak mau menegadahkan tangan di jalanan. Setidaknya aku masih mampu memberikan kemanfaataan dengan abu gosok ini, Nak,” lanjutnya.

Hatiku merasa tersentil. Selama ini aku mengklaim apa yang kumiliki adalah atas usaha sendiri dan melupakan campur tangan Allah SWT. Aku malu, sungguh aku malu. Malu melihat orang yang setua itu saja masih mau berusaha sedemikian rupa untuk menggapai rizki-Nya. Sedangkan aku merengek-rengek dan bermalas-malasan tapi maunya hidup enak.

Nasihat lelaki itulah yang menjadi salah satu pengantar aku berada di sini. Di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Yang dari atasnya aku bisa memandang seluruh Ibu Kota dengan leluasa. Yang dulu hanya bisa kusaksikan dari televisi hitam putih di pos ronda. Beruntung Allah SWT mempertemukan aku dengan laki-laki itu atau barangkali Allah sengaja menegurku melalui penjual abu gosok itu.

Entahlah, yang pasti kejadian itu mampu membuatku berubah. Dan setiap mengingat hal itu aku juga tersenyum sendiri. Karena kejadian itu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena intropeksi diri tapi karena sejujurnya aku tidak membeli makanan lebih dan selembar uang lima ribu itu adalah lembar terakhir yang ada di dompetku.


CERPEN "SEBUAH KISAH RUMAH TANGGAKU"

Namaku Rendi Zein, ayah dari dua orang anak lelaki bernama Rifki dan Rival, istriku bernama Reni Wulandari. Genap 10 tahun pernikahan kami, hari-hari berjalan seperti biasa. Aku adalah pria yang bijaksana dalam mengelola keuangan, yaaa.. walaupun tetangga banyak yang mencibir dan menilai aku adalah suami yang pelit. Tapi, semua kulakukan untuk menyeimbangkan pengeluaran dan pendapatan. Biarlah tetangga berkata apa, namanya tetangga yaa kelakuan seperti dajjal.

-------------------------------------------------------------------- 

“Uang hari ini habis lagi?” tanyaku agak kesal mendengar laporan istri tentang jatah harian yang kuberikan tak bersisa lagi.

“Ini catatannya, Mas.” Aku mendengkus sembari meraih buku kecil dari tangannya, dengan cepat aku membaca totalan yang ia tuliskan seperti biasa.

“Ya ampun, kamu jajan eskrim? Sudah kubilang jangan boros kan? Udah gede kok masih suka jajan,” cerocosku yang merasa heran dengan wanita di hadapanku ini.

 Jelas-jelas dia sudah punya anak, tapi terkadang kelakukannya melebihi makhluk-makhluk yang dilahirkannya itu.

“Maaf, Mas. Cuma eskrim tiga ribu, kok. Tadi neng anterin Rifki jajan, kebetulan ibu-ibu yang nganterin anak-anaknya di depan ikut jajan, jadinya neng pengen.”

“Nah itu yang aku gak suka! Makanya jangan sering bergaul dengan ibu-ibu di depan, ujung-ujungnya jadi terpengaruhkan?” Reni menunduk, wajahnya memerah, entah karena kesal atau bagaimana.

“Besok aku potong uang hariannya sesuai pengeluaranmu yang gak teratur ini!” Reni mengangkat kepalanya lagi, ia menatapku tanpa bicara.

Bukannya aku keterlaluan, tapi Reni harus belajar disiplin agar bisa menghemat juga mendidik anak-anak dengan benar. Kalau dia selalu memakai uang untuk hal percuma, nanti anak-anak jadi menirunya.

“Jadi dua puluh ribu aja gitu?” Aku mengangguk sembari menutup buku catatan.

“Terserah Mas, deh.” Reni melengos, lalu menjauh seiring ayunan kakinya yang tertutup daster. Semakin kekanak-kanakan saja.

 ---------

“Makasih ya, Pak Rendi.”

“Sama-sama, Pak. Semoga motornya enak dipakai.” Genggaman tangan kami pun terlepas. Saat Pak Santo menjauh bersama kendaraan roda dua yang ia beli dariku, cepat ku buka amplop yang ia serahkan barusan.

“Lumayan.” Aku tersenyum sendirian, lalu celingukan. Kali saja ada nenek lampir alias mak mertua yang suka kepo.

Ya, beginilah nasib kalau hidup berdampingan dengan mertua. Sedikit banyaknya mereka selalu ikut campur, entah soal keseharian atau keuangan.

Padahal sembilan tahun lalu, aku hendak membangun rumah yang jauh dari mertua, tapi tanah yang mereka wariskan pada Reni membuatku berpikir ulang, akhirnya mau tidak mau, aku membangun istana di tanah tersebut agar hemat biaya. Walau memang resikonya seperti ini, kurang nyaman.

Sebelum Reni atau mertuaku melihat, kumasukkan semua isi amplop ke dalam jaket kulit yang kukenakan. Kalau uang dipegang Reni, bisa-bisa aku gak kebagian, secara dia kan kurang pandai mengatur keuangan.

“Yah… minta jajan.” Baru saja kakiku menapaki ujung pintu, suara Rival, anak sulungku menggema dari dalam sana.

“Ibu mana? Kok minta uang sama Ayah?” ucapku rada gemas.

“Udah kok. Tapi barusan Rival lihat Ayah nerima amplop, pasti kan dapat uang dari hasil jual motor.” Rasa gemasku berubah jadi geram mendengar celotehan anak umur delapan tahun ini. Segera kutinggalkan dia untuk mencari keberdaan Reni.

“Reni! Reni!!” Dari kejauhan Reni menyahut, pintu belakang yang terbuka lebar memperlihatkan dengan jelas kalau ia tengah mengangkat jemuran yang lumayan banyak.

“Cepat sini!” perintahku sudah tak tahan.

“Bentar dong, Mas.” Reni sedikit berlari, wajahnya sedikit tertutup oleh kain-kain jemuran.

“Lama banget! Cepetan!” Aku tak sabar. Reni masuk ke dalam kamar, lalu kembali dengan tergopoh-gopoh.

“Kenapa sih, Mas? Mau kopi?”

“Kamu ini! Ngajarin anak kok gak ada bagus-bagusnya!!!”

“Maksudnya apa sih, Mas?” Aku berkacak pinggang, Reni selalu saja sok polos di depanku. Padahal aku tahu, ia selalu mendoktrin Rival dengan ajaran-ajaran menyebalkannya itu kalau aku sedang tak di rumah.

“Rival sudah kamu kasih jajan?” tanyaku masih dengan nada tinggi.

“Sudahlah, tadi pagi kan Mas lihat sendiri. Memangnya kenapa, sih?”

“Mana buku catatannya?” aku menengadahkan tangan. Reni mendengkus walau sedikit halus. Gak ada sopan santunnya banget sama suami.

“Ini!” ucapnya ketus seraya memberikan buku kecil.

Dengan cepat mata ini membaca satu persatu tulisannya. Jajan Rival seperti biasa, delapan ribu. Sisanya kulihat uang yang kuberikan tadi pagi, Reni belanjakan pada bumbu dan lauk untuk makan. Sepertinya dia memang tidak jajan hari ini.

“Kalau sudah dikasih, ngapain kamu suruh minta lagi sama aku”? lanjutku seraya menutup buku.

“Siapa yang suruh sih?” Reni masih tak mau mengaku.

“Barusan, katanya Rival minta karena lihat Pak Santo berikan uang hasil jual motor. Pasti kamu yang ajarin kan?” Reni malah menyeringai kemudian menggeleng. Entahlah, makin hari sikapnya makin menyebalkan saja.

“Mas lihat sendiri, kan? Tadi aku lagi ngapain? Lagi pula Rival sudah besar, sudah ngerti! Wajar saja kalau dia minta jajan sama ayahnya sendiri! Dari pada minta sama laki-laki lain!” Aku melotot mendengar perkataan Reni. Semakin ngelunjak saja wanita ini.

“Kalau bukan kamu yang ngajarin, mana berani dia minta-minta! Didik anak yang benar dong! Harusnya kamu bersyukur punya suami mau usaha kayak aku!” Reni tak membalas perkataanku karena tangis Rifki si anak bungsu kami dari kamar membelah obrolan kami.

“Tuh, kan!” Suami lagi ngomong malah pergi! HUH!!” Kulempar buku kecil pada ujung kasur lantai yang tergeletak di lantai ruang televisi. Reni masih tak menyahut, ia malah asyik menenangkan Rifki yang menangis di sana.

Malas dengan sikapnya yang makin menjadi, lebih baik aku pergi ke kamar, menghitung uang pemberian Pak Santo.

--------------------------------------------------------------------

“Mas, kamu tau ini hari apa kan?” Reni terlihat bersemangat hari ini.

“Kamis, kenapa?” jawabku cetus. Wajahnya terlihat muram mendengar jawabanku. Entah apa yang ada dipikirannya.

“I..ini ini hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-10” jawabannya dengan mata berkaca-kaca.

“Wow, aku lupa. Terus kamu mau hadiah apa?”

Entah apa yang ia rasakan saat ini, aku tak peduli. Reni menjauh dariku dengan raut muka yang tak menyenangkan.

--------------------------------------------------------------------

“Yah, ibu mana? Ayah? AYAAHHH!!” Rival setengah teriak kepadaku menanyakan keberadaan ibunya yang sedari pagi belum pulang.

Jam menunjukkan pukul 7 malam, kemana wanita itu pergi? Dasar istri tidak bisa diandalkan. Bisa-bisanya dia pergi entah kemana tanpa izin dariku.

Detik ke detik, waktu terus berjalan hingga pukul 10 malam, ia belum tiba juga.

“Ayah!! Rival lapar, ibu mana huhuhu” tangisan Rival sungguh mengusikku.

“Kita ke tempat nenek! Bangunin Rifki juga, kalian tidur di tempat nenek dulu” terpaksa aku membawa mereka ke rumah sebelah, rumah mertua ku.

“Assalamualaikum

“Walaikumsalam, masuk”

Pintu rumah pun terbuka untuk kami.

“Rival, Rifki ucapkan salam ke nenek” pintaku ke anak-anak.

“Masuk masuk, silahkan duduk” aku pun duduk di sofa empuk milik mertuaku ini. Sedangkan Rival dan Rifki langsung menuju dapur.

“Ah. Maaf Bu, mereka tidak sopan sekali”

Wanita renta ini tersenyum memaklumi kelakuan cucunya, “tidak apa Nak Rendi, mereka mungkin kelaparan. Memangnya kemana Reni?”

“Entahlah Bu, dia tidak berpamitan ke saya” jawabku jujur.

Ia menatapku tajam. “Kalian ada masalah?”

“Ti.. tidak ada, kami baik-baik saja”

--------------------------------------------------------------------

“Kalian ada masalah?”

“Ti..tidak ada, kami baik-baik saja”

“Ibu nasehati kamu, walaupun saya bukan ibu kandung kamu, tapi saya ibu kandung dari wanita yang kamu nikahi sepuluh tahun yang lalu. Kamu jangan pernah sakiti anak saya. Kalian sudah sepakat untuk menikah, itu artinya tidak ada lagi yang harus kamu simpan untuk dirimu sendiri.”

“Apa maksudnya Ibu?”

“Harta yang kamu miliki adalah kepunyaan istrimu juga, tapi harta istrimu tetaplah menjadi harta pribadinya. Ibu teringat dulu ketika Reni masih kecil hingga menikah denganmu, ibu selalu memberikan apa yang dia mau, tapi Reni adalah anak yang jarang meminta hal-hal yang tidak bisa ibu lakukan. Ketika anak seusianya meminta handphone dan gaun pesta yang mewah, ia hanya meminta jajan di warung langganan kami.”

Aku merasa tertampar mendengar perkataan mertuaku tadi. Ku habiskan malamku di rumah sendirian dengan merenungi segala perlakuanku ke Reni. Rifki dan Rival tidur di rumah neneknya.

“Ya Allah, berdosanya diriku” ucapku dalam batin.

--------------------------------------------------------------------

Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati sela-sela jendela kamarku. Ya Tuhan, aku melewatkan sholat subuhku.

“Baru bangun, Mas?” Reni ternyata sudah pulang. Ku lihat wajah murungnya telah hilang. Sekarang malah tersenyum manis kepadaku.

“Sebentar, jangan pergi” aku terburu-buru mengambil wudhu dan melaksanakan subuhku yang tertinggal. Takut ditinggal pergi lagi, aku tak sempat membaca doa.

….

“Rifki dan Rival masih di rumah ibu?” tanyanya

“Iya, semalam kami dari tempat ibu. Kamu kemana? Aku panik” ucapku pelan

“Hmm, kamu panik? Kita berada di atap yang sama semalam” aku heran dengan jawaban Reni.

“Reni.. aku kecewa terhadap diriku sendiri, aku.. aku..” aku tak melanjutkan kata-kataku, air mata ini menetes dengan sendirinya.

“Kemarin aku berada di rumah ibu, maaf aku tak mengabarimu karena kecewa dengan sikapmu. Aku curhat ke ibu tentang dirimu, mas. Aku minta maaf sebagai istri, aku tak seharusnya menceritakan ini ke orang lain walaupun ibuku sendiri.” Reni pun ikut menangis.

“Aku juga minta maaf Reni, tak seharusnya aku terlalu perhitungan denganmu.. sudah sepuluh tahun dan aku baru menyadarinya sekarang. Kamu sudah terlalu sabar menghadapiku selama ini.”

“Iya Mas” Reni menggengam tanganku “mari kita buka lembaran baru mas”

“Kita jemput Rival dan Rifki dulu. Aku tak punya hadiah untuk 10 tahun pernikahan kita kemarin.. tapi aku ingin merayakannya hari ini, apa saja yang kamu mau aku turuti”

“Neng cuman mau menghabiskan waktu denganmu Mas” jawabnya dengan tersipu malu.