Sabtu, 16 Oktober 2021

CERPEN "CAHAYA YANG KINI REDUP"

Kematian bisa datang kapan saja. Tak mengenal waktu dan tempat. Kematian adalah hal yang menyakitkan tapi kematian itu pula yang dapat merubah orang lain. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok, dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.

- - - - - - -

Aku menatap benci ke arah pria tua berbaju lusuh di seberang jalan. Tangannya melambai dan di wajahnya terukir sebuah senyuman. Aku cuek. Tetap berdiri. Sedangkan dia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju ke arahku.

“Lama ya he he” ucapnya sumringah sambil memegang dua bungkus mie instan

“Ayo cepat jalan, saya malu”

“Iya sabar ya Nak”

Ya, pria tua berbaju lusuh itu adalah ayahku. Ayah tak pernah ku inginkan kehadirannya di sisiku. Sepeninggalnya ibu 2 tahun yang lalu, ayah menjadi tak terawat dan sakit-sakitan. Keperawakannya terlihat lusuh, wajahnya selalu muram, bibirnya pucat dan matanya sayu. Usianya sudah setengah abad, namun masih saja menyusahkanku.

“Tolong sekalian buatkan ayah” ucapnya pelan. Aku membuka bungkus mie instan ini dan memasukkannya ke dalam panci yang telah usang.

Aku adalah anak lelaki tunggal di rumah ini. Hanya kami berdua yang tinggal di gubuk yang disebut sebagai rumah. Yaaa.. hanya ada aku dan si mayat hidup itu.

Aku menyerahkan sepiring mie instan kepadanya “ini!”

“Terima kasih Nak” ia tersenyum ke arahku. Bosan sekali harus menjalani hidup dengannya, harus menggantikan peran ibu untuk mengurus rumah. Sungguh membosankan. Aku juga ingin hidup layaknya pemuda di luar sana. Di usiaku yang ke-20 ini, aku bahkan tidak pernah merasakan nikmatnya ngopi di warkop, nongkrong dengan teman sebaya, bahkan aku tidak merasakan indahnya perkuliahan dan harus bekerja serabutan demi menghidupi diriku sendiri dengan ayahku.

Kami berbincang-bincang di ruangan sempit beralaskan kardus bekas, aku memulai pembicaraan dan mengeluarkan keluh kesahku selama ini “sampai kapan kita hidup terluntang-lantung Ayah?”

Ayah tak menjawab.

“Saya lelah, saya lelah harus mengurus dan menghidupi Ayah. Setelah ibu meninggal, Ayah berhenti kerja, hasil serabutan saya saja tidak cukup untuk makan kita sehari-hari”

Pria tua itu mulai mengeluarkan suara “maaf kalau ayah merepotkanmu, Afdal”

“MAAF, MAAF DAN MAAF!” aku mulai meninggikan nada bicaraku “maaf saja terus! Ayah sebut kata itu seribu kali pun, kita akan hidup seperti ini saja!”

Aku meninggalkan ruangan itu dan membiarkan ayah merenungi kesalahannya.

Kematian ibu seharusnya bukan menjadi alasan baginya untuk berhenti kerja dan hanya berdiam diri di rumah hingga sakit-sakitan.

 - - - - - - -

Matahari telah menunjukkan eksistensinya, sinarnya mulai masuk melalui cela-cela jendela kamar, aku membuka mata dan mulai menjalani keseharianku. Dari sisi lain, aku melihat ayah menyeruput kopi hangat, “nikmat sekali ya!” ucapku dengan sarkas. “saya bahkan tidak dibuatkan kopi, padahal saya yang mencari uang”

“Se..sebentar, ayah rebus air” balasnya terbata-bata seraya menyalakan kompor

“Tidak perlu, saya buru-buru”

“Tunggulah sebentar, Nak. Ada yang ingin ayah sampaikan juga”

Aku tak menggubris omongannya dan terus melanjutkan kegiatanku.

“AFDAAL” ku dengar teriakannya dengan suara serak, ia terus memanggilku seakan ada hal yang sangat penting “Afdal, kemariii!” tapi tetap saja aku tak menoleh ke arahnya dan terus melangkah keluar rumah.

Ia menghampiriku keluar. Sekilas kulihat wajahnya yang cemas. Aku tak peduli dan langsung meninggalkannya.

- - - - - - - - -

Selalu terbesit dipikiranku tentang ayah, apa yang ingin disampaikannya? “Aku harus pulang sebentar kayaknya” aku yang tadinya mengangkat karung beras kini berhenti, teman sesama kerjaku kini berteriak “Bro cepetan jalan! Jalannya sempit ini, jangan berhenti!” teriakannya membuatku tersadar dari lamunan, “maaf Mang”

Aku beristirahat sebentar di teras toko milik bos ku, kulihat sosok ayahku dari kejauhan. Ia berlari menujuku sambil memegang sebuah amplop putih entah berisikan apa. Lelaki tua itu menengok kanan kiri lalu menatapku dengan bahagia. Ia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan. Namun, sesuatu yang tak kuduga tiba-tiba terjadi. Sebuah sepeda motor melaju dengan kencang. Dan mataku nanar menyaksikan tubuh renta ayahku itu terlempar beberapa meter di jalanan. Aku pias dan segera berlari menghampiri tubuh tergeletak tak berdaya itu.

“A..ay..ayah?” bibirku bergetar menyebut namanya. Simpang siur suara orang dan ambulan beradu. Segera, tubuh tak berdaya itu dilarikan ke rumah sakit.

aku menatap dengan penuh ketidakpercayaan atas kejadian ini. Tubuh renta itu kini terbaring di bawah kain putih, nafasnya telah berhenti, jantungnya tak berfungsi.

“Ayah, kenapa? KENAPAAAA?” aku berteriak lalu menangis sejadi-jadinya. Semarah dan sebenci apapun aku ke orang ini, namun detik ini aku kehilangan alasan untuk membencinya.

Aku larut dalam kesedihan.

“Ini milik almarhum” kata perawat yang menghampiriku

Kubuka amplop putih milik ayahku yang ia genggam sebelum peristiwa nahas itu.

“Ternyata isinya sebuah surat” batinku

 

Teruntuk anakku, Afdal

Tak ada yang muncul setelah kegelapan,

selain cahaya…

Tak ada yang muncul setelah kesedihan,

selain kebahagiaan…

Sudah cukup perjuangan ibu dan ayah

Lanjutkan kamu yang berjuang

Di dalam sebuah panci tua di ujung dapur,

ayah selipkan buku tabungan beserta atm nya

2207 adalah tanggal lahirmu, itu juga pin atm nya

Jumlah uang di tabungan itu adalah hasil kerja ayah selama ini

yang ayah sisihkan untuk masa depan kamu

Jangan pernah membenci ayah~

 

Aku hanya bisa menangis dengan penuh penyesalan. Kini kusadari arti kehadiran seseorang. Ternyata yang ku inginkan hanyalah sesosok ibu dan ayah, yang ku rindukan rupanya adalah kehangatan dalam sebuah keluarga.

Penyesalan selalu datang di akhir.

Tapi, kuharap kematian ayah adalah jembatan untuk menemui orang yang dincintainya, yaitu ibu.

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar