Kematian bisa datang kapan saja. Tak mengenal waktu dan tempat. Kematian adalah hal yang menyakitkan tapi kematian itu pula yang dapat merubah orang lain. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok, dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
-
- - - - - -
Aku
menatap benci ke arah pria tua berbaju lusuh di seberang jalan. Tangannya
melambai dan di wajahnya terukir sebuah senyuman. Aku cuek. Tetap berdiri.
Sedangkan dia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju ke arahku.
“Lama
ya he he” ucapnya sumringah sambil memegang dua bungkus mie instan
“Ayo
cepat jalan, saya malu”
“Iya
sabar ya Nak”
Ya,
pria tua berbaju lusuh itu adalah ayahku. Ayah tak pernah ku inginkan
kehadirannya di sisiku. Sepeninggalnya ibu 2 tahun yang lalu, ayah menjadi tak
terawat dan sakit-sakitan. Keperawakannya terlihat lusuh, wajahnya selalu
muram, bibirnya pucat dan matanya sayu. Usianya sudah setengah abad, namun
masih saja menyusahkanku.
“Tolong
sekalian buatkan ayah” ucapnya pelan. Aku membuka bungkus mie instan ini dan
memasukkannya ke dalam panci yang telah usang.
Aku
adalah anak lelaki tunggal di rumah ini. Hanya kami berdua yang tinggal di
gubuk yang disebut sebagai rumah. Yaaa.. hanya ada aku dan si mayat hidup itu.
Aku
menyerahkan sepiring mie instan kepadanya “ini!”
“Terima
kasih Nak” ia tersenyum ke arahku. Bosan sekali harus menjalani hidup
dengannya, harus menggantikan peran ibu untuk mengurus rumah. Sungguh
membosankan. Aku juga ingin hidup layaknya pemuda di luar sana. Di usiaku yang
ke-20 ini, aku bahkan tidak pernah merasakan nikmatnya ngopi di warkop,
nongkrong dengan teman sebaya, bahkan aku tidak merasakan indahnya perkuliahan
dan harus bekerja serabutan demi menghidupi diriku sendiri dengan ayahku.
Kami
berbincang-bincang di ruangan sempit beralaskan kardus bekas, aku memulai
pembicaraan dan mengeluarkan keluh kesahku selama ini “sampai kapan kita hidup
terluntang-lantung Ayah?”
Ayah
tak menjawab.
“Saya
lelah, saya lelah harus mengurus dan menghidupi Ayah. Setelah ibu meninggal, Ayah
berhenti kerja, hasil serabutan saya saja tidak cukup untuk makan kita
sehari-hari”
Pria
tua itu mulai mengeluarkan suara “maaf kalau ayah merepotkanmu, Afdal”
“MAAF,
MAAF DAN MAAF!” aku mulai meninggikan nada bicaraku “maaf saja terus! Ayah
sebut kata itu seribu kali pun, kita akan hidup seperti ini saja!”
Aku
meninggalkan ruangan itu dan membiarkan ayah merenungi kesalahannya.
Kematian ibu seharusnya bukan menjadi alasan baginya
untuk berhenti kerja dan hanya berdiam diri di rumah hingga sakit-sakitan.
Matahari
telah menunjukkan eksistensinya, sinarnya mulai masuk melalui cela-cela jendela
kamar, aku membuka mata dan mulai menjalani keseharianku. Dari sisi lain, aku
melihat ayah menyeruput kopi hangat, “nikmat sekali ya!” ucapku dengan sarkas.
“saya bahkan tidak dibuatkan kopi, padahal saya yang mencari uang”
“Se..sebentar,
ayah rebus air” balasnya terbata-bata seraya menyalakan kompor
“Tidak
perlu, saya buru-buru”
“Tunggulah
sebentar, Nak. Ada yang ingin ayah sampaikan juga”
Aku
tak menggubris omongannya dan terus melanjutkan kegiatanku.
“AFDAAL”
ku dengar teriakannya dengan suara serak, ia terus memanggilku seakan ada hal
yang sangat penting “Afdal, kemariii!” tapi tetap saja aku tak menoleh ke
arahnya dan terus melangkah keluar rumah.
Ia
menghampiriku keluar. Sekilas kulihat wajahnya yang cemas. Aku tak peduli dan
langsung meninggalkannya.
-
- - - - - - - -
Selalu
terbesit dipikiranku tentang ayah, apa yang ingin disampaikannya? “Aku harus
pulang sebentar kayaknya” aku yang tadinya mengangkat karung beras kini
berhenti, teman sesama kerjaku kini berteriak “Bro cepetan jalan! Jalannya
sempit ini, jangan berhenti!” teriakannya membuatku tersadar dari lamunan,
“maaf Mang”
Aku
beristirahat sebentar di teras toko milik bos ku, kulihat sosok ayahku dari
kejauhan. Ia berlari menujuku sambil memegang sebuah amplop putih entah
berisikan apa. Lelaki tua itu menengok kanan kiri lalu menatapku dengan
bahagia. Ia mulai melangkahkan kaki menyeberang jalan. Namun, sesuatu yang tak
kuduga tiba-tiba terjadi. Sebuah sepeda motor melaju dengan kencang. Dan mataku
nanar menyaksikan tubuh renta ayahku itu terlempar beberapa meter di jalanan.
Aku pias dan segera berlari menghampiri tubuh tergeletak tak berdaya itu.
“A..ay..ayah?”
bibirku bergetar menyebut namanya. Simpang siur suara orang dan ambulan beradu.
Segera, tubuh tak berdaya itu dilarikan ke rumah sakit.
aku
menatap dengan penuh ketidakpercayaan atas kejadian ini. Tubuh renta itu kini
terbaring di bawah kain putih, nafasnya telah berhenti, jantungnya tak
berfungsi.
“Ayah,
kenapa? KENAPAAAA?” aku berteriak lalu menangis sejadi-jadinya. Semarah dan
sebenci apapun aku ke orang ini, namun detik ini aku kehilangan alasan untuk
membencinya.
Aku
larut dalam kesedihan.
“Ini
milik almarhum” kata perawat yang menghampiriku
Kubuka
amplop putih milik ayahku yang ia genggam sebelum peristiwa nahas itu.
“Ternyata
isinya sebuah surat” batinku
Teruntuk anakku, Afdal
Tak ada yang muncul setelah kegelapan,
selain cahaya…
Tak ada yang muncul setelah kesedihan,
selain kebahagiaan…
Sudah cukup perjuangan ibu dan ayah
Lanjutkan kamu yang berjuang
Di dalam sebuah panci tua di ujung dapur,
ayah selipkan buku tabungan beserta atm nya
2207 adalah tanggal lahirmu, itu juga pin atm nya
Jumlah uang di tabungan itu adalah hasil kerja ayah selama
ini
yang ayah sisihkan untuk masa depan kamu
Jangan pernah membenci ayah~
Aku
hanya bisa menangis dengan penuh penyesalan. Kini kusadari arti kehadiran
seseorang. Ternyata yang ku inginkan hanyalah sesosok ibu dan ayah, yang ku
rindukan rupanya adalah kehangatan dalam sebuah keluarga.
Penyesalan
selalu datang di akhir.
Tapi,
kuharap kematian ayah adalah jembatan untuk menemui orang yang dincintainya,
yaitu ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar