Untuk membaca bagian pertama, silahkan klik disini
Tarakan, 30 Agustus 2019
Sebuah cerita
"MASIHKAH KAU MILIKKU?" (BAGIAN 2)
"Oh shit boys, auto block" batinku bergejolak untuk kedua kalinya
Perasaan tidak suka datang, jujur aku terusik dengan kehadirannya. Ingin segera pergi jauh-jauh dari sini tapi apa daya ini adalah rumahku.
"hem mas jadi mau ngobrol apa?" gumamku sekadar berbasa-basi
"cuman mau tanya, besok ada waktu?" belum sempat aku menjawab, ia langsung meneruskan "saya mau ngajak jalan"
Aku terdiam dan berpikir. Dia menunggu jawaban
Ponsel miliknya pun berdering, "halo.."
"oh iyaiya bentar lagi kesana"
Dia terlihat sedang berpikir, "yaudah dek, saya permisi dulu ya. Saya tunggu jawabannya di WA" ungkapnya sembari tersenyum tipis dan berlalu.
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan menuju kamar.
"block aja ah WA nya, ribet amat jadi orang" gumamku dalam hati
----------------------------------------------------------------
Cinta datang sesuka hati, tanpa perduli ke hati siapa ia singgahi.
Entah aku yang terlalu memuji kekuatan cinta, atau cinta yang berkhianat dariku. Intinya aku lelah tersakiti oleh sesuatu yang disebut "cinta"
----------------------------------------------------------------
"jadi gimana, mau gak? aku otw nih?" pesan darinya terpampang nyata di layar hp ku.
Dia masih bisa bertanya seperti itu, bukankah bahasa tubuhku kemarin malam sudah menandakan aku menolak.
Sebenarnya aku sudah memblokir nomernya, tetapi aku memutuskan untuk membuka blokirannya. Aku tak ingin memberi kesan buruk kepada orang lain, terlebih lagi dia adalah salah satu pelangganku.
"maaf, aku gabisa.." belum sempat aku mengirimkan pesan ini. Di seberang sana sudah memberi rayuan maut "aku traktir makan sepuasnya deh"
"duksalak, anasundala, kaget aku kimak, what the? makanan? traktir?" aku berteriak spontan dalam kamar. Seketika jiwa missqueenku memberontak, ingin mengiyakan ajakannya, namun hati nurani berbisik lembut untuk menolak.
Tolong aku Tuhan...
Aku mengintip dibalik jendela, dewi malam semakin berani menampakkan dirinya sementara aku disini masih dilanda kebingungan.
Layarku kembali menyala, notifikasi menunjukkan pesan "hey.. aku masih menunggu jawabanmu"
"iya mau" terdengar seperti jawaban pasrah, tapi itulah keinginan hatiku yang terdalam.
----------------------------------------------------------------
Aku sadar, aku bukanlah bagian dari masa depanmu
Mustahil rasanya untuk bersatu dengan segala perbedaan yang kita miliki
Tapi, mengapa kau memilihku?
Mengapa kau memilih untuk mencintaiku?
Walaupun sekarang rasa cinta itu telah berakhir
Dan bodohnya aku, mengapa membiarkan semua ini berakhir
----------------------------------------------------------------
Kami mengelilingi kota dan menyempatkan diri untuk makan di salah satu warung. Yaa, karena itulah tujuanku menerima ajakan jalan bersamanya. Ditemani angin malam, kami menghabiskan waktu diperjalanan dengan berbincang ringan.
Namun,hangat..
Sesampainya dirumah, aku berniat mengirimkan pesan terima kasih kepadanya.
Ternyata gerakannya sungguh lincah, aku telah menerima pesan darinya "dek, mau gak jadi pacarku?"
Tak ada angin, tak ada hujan. Ia langsung menembakku.
"gimana mau gak?"
"gak" balasku dengan cuek
"jangan langsung menolak, izinkan aku untuk berjuang lebih lama lagi"
----------------------------------------------------------------
Ternyata dia tidak menyerah, hari demi hari ia selalu mengirimkanku hadiah. Entah itu makanan, cemilan, dan ikan mentah :V Begitulah caranya menaklukkan hati orangtuaku.
Ponselku bergetar, "sorry tadi aku kasih ayam beku"
"ekstrim ya pemberiannya" ujarku
Diseberang sana beralasan "ya gimana lagi, ibumu seneng kalau aku ngasih lauk"
"jadi kamu kejar aku apa ibuku?" tanyaku heran
"haha, aku suka bapakmu"
Aku membacanya dengan raut wajah datar.
"ya, gaklah. aku suka kamu" timpanya "jadi mau gak jadi pacarku?"
----------------------------------------------------------------
Awal dari sebuah perasaan...
Seperti udara pagi yang lembut tak menghasut..
Mengalir deras dalam setiap nadi penuh arti..
Datang tiba-tiba menggugah jiwa..
Awalnya biasa saja, lama-lama terbiasa..
Yang dulunya ragu, sekarang menjadi candu..
----------------------------------------------------------------
Bergetar jari jemariku membalaskan pesan sakral ini, "iya aku mau"
"mau apa?" balasnya
"mau jadi pacarmu"
"nah gitukan enak didengar dek"
Berawal dari ini, aku harap kisah cintaku tidak berakhir tragis.
B E R S A M B U N G